Takkan Kudeta Jokowi, Prabowo: Beliau Bapak Merah Putih
Aksi Bela Islam III Diputuskan Tetap Digelar 2 Desember
SIAGAINDONESIA.COM Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjamu Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto di Istana Negara, Kamis (17/11/2016). Prabowo datang atas undangan Jokowi yang merupakan balasan atas kunjungannya di Hambalang. Apakah terkait isu penjegalan presiden?
Duduk di atas sofa, Presiden mengenakan kemeja batik lengan panjang, sementara Prabowo mengenakan kemeja putih, celana krem dan kopiah hitam. Di hadapan mereka, duduk para wartawan.
Kepada para wartawan, Prabowo mengaku dijamu makan siang dengan menu utama ikan bakar. “Kalau di Hambalang (di rumah Prabowo), nasi goreng,” kata Prabowo, seraya tertawa.
Presiden Jokowi mengatakan pertemuannya dengan Prabowo merupakan kunjungan balasan setelah dirinya mengunjungi kediaman Prabowo di Hambalang, Bogor, akhir Oktober lalu.
Presiden juga menyebut silaturrahmi itu sebagai tradisi yang sangat baik. “Dan saya berharap budaya seperti ini juga sampai ke tengah sampai ke bawah,” kata Jokowi.
Menurutnya, ada beberapa hal yang dibicarakan dalam pertemuan antara lain kesamaan keduanya dalam berkomitmen untuk menjaga kemajemukan Indonesia.
“Kita tidak menginginkan kita terpecah-belah gara-gara perbedaan politik, karena sangat mahal harganya bagi negara kesatuan republik Indonesia (NKRI),” tegas Presiden Jokowi kepada wartawan di teras dalam Istana Merdeka, usai pertemuan.
“Dan saya dengan Pak Prabowo juga berkomitmen bersama-sama menjaga Indonesia yang majemuk ini,” kata Presiden.
Hal ini juga diamini Prabowo, “Perbedaan politik itu hal biasa, tidak boleh jadi masalah dan perpecahan (yang) berkelanjutan.”
Prabowo mengatakan walaupun mereka bersaing secara politik dan dia terus mengkritik kebijakan pemerintah yang dianggap tidak tepat namun sejak awal berkomitmen tidak akan bersikap destruktif.
“Saya tidak akan menjegal bapak (Jokowi), karena beliau bapak merah putih. Jadi, kritik itu bagus asal tidak destruktif dan tidak mengarah kepada kekerasan,” ungkap Prabowo.
Sebagian wartawan kemudian mengajukan pertanyaan. Kepada Prabowo, seorang wartawan menanyakan apakah pertemuan ini akan berujung dukungan Prabowo kepada pemerintahan Jokowi.
“Oh, tidak. Demokrasi membutuhkan kritik. Pak Jokowi tidak pernah meminta Gerindra tidak mengkritik. Saya dari dulu komitmen sama beliau adalah beliau di eksekutif kami di legislatif. Kalau ada kebijakan yang kurang berkenan kami akan kritisi,” tegas Prabowo.
Dia juga mengatakan bahwa Jokowi tidak takut dengan kritik. “Beliau tidak minta kami mbeo. Demokrasi yang modern bukan mbebek.”
Walaupun tidak menyinggung secara eksplisit soal status tersangka Gubernur nonaktif DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama terkait dugaan penistaan agama, Prabowo mengatakan, “Saya sampaikan apresiasi kami dengan perkembangan terakhir. Saya lihat kita bisalah melalui proses cobaan yang kita hadapi bersama dengan ketenangan dan kesejukan.”
“Kongkretnya adalah mendorong selalu ke arah penyelesaian yang tanpa gaduh, tanpa ketegangan, (dan) kita mencegah kekerasan,” tambah Prabowo.
Menurutnya, dirinya dan Jokowi tidak menghendaki adanya perpecahan dan berusaha untuk menghindarinya, walaupun ada perbedaan politik diantara mereka.
Ditanya bagaimana sikapnya tentang aksi penolakan terhadap kampanye Ahok-Djarot di beberapa tempat, Prabowo tidak menjawabnya secara langsung. Dia hanya mengatakan bahwa masyarakat Indonesia itu majemuk dan sebagian masih butuh pendidikan memadai dan kesempatan hidup yang lebih baik. “Ini realitas, tidak bisa dihindari”.
Karena itulah, menurutnya, setiap tokoh mesti benar-benar bisa menjaga kesejukan, ketenangan, dalam tutur kata.
“Supaya masyarakat tidak emosional. Bangsa kita emosional, gampang terbawa perasaan, terbawa sakit hati. Kalau tersakiti, lama sembuhnya. Itu masalahnya,” kata Prabowo, kemudian terkekeh.
Wartawan kemudian menanyakan soal isu unjuk rasa tanggal 25 November terkait proses hukum Ahok, yang dijawab Prabowo dengan mengatakan dirinya tidak segan-segan untuk berupaya mengurangi ketegangan politik. “Jadi, bukan untuk hadapi (isu demo tanggal) 25 (November), setiap saat ada ketegangan, kita bekerja keras untuk menyejukkan,” katanya.
Keharmonisan hubungan keduanya tersebut mendapat apresiasi positif dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). “Apa saja alasannya dan kebaikan untuk kebaikan bangsa saya menaruh perhatian baik,” kata Ketua PBNU Marsudi Syuhud di Jakarta, Kamis (17/11/2016).
Marsudi menuturkan, meskipun keduanya berbeda pandangan politik dan sempat menjadi rival saat Pilpres 2014 yang lalu, Jokowi dan Prabowo tidak menjadi rival untuk kepentingan bangsa.
“Karena apa pun kemarin rival, ketika sudah menyangkut kepentingan rakyat ya sudah, rakyat yang utama bukan emosi,” tutur dia.
Selain itu, mantan Sekjen PBNU ini berharap, Presiden Jokowi tidak hanya mengundang dan menunjukkan keharmonisan dengan Prabowo saja. Menurut dia, banyak tokoh-tokoh di Indonesia yang harus juga dirangkul dan diajak berdiskusi terkait bangsa.
“Apresiasi jangan ke Prabowo saja yang diajak berbicara, tapi kepada semua tokoh bangsa harusnya diajak untuk mengurusi bangsa yang dinilai punya kapabilitas,” tandas Marsudi.
Senada Direktur Eksekutif Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Djayadi Hanan, mengatakan, pertemuan Jokowi dan Prabowo, merupakan lambang penghormatan.
“Dalam pertemuan dengan berbagai tokoh bangsa, termasuk Prabowo, Presiden memperoleh jaminan bahwa mereka menghormati Presiden dan menghormati konstitusi termasuk soal dukungan penuh kepada pemerintahan yang sah,” ucap Djayadi, Jumat (18/11/2016).
Menurut dia, pertemuan tersebut sangat penting. Terutama menunjukkan kepada rakyat, tidak ada rival politik abadi.
“Pertemuan dengan Pak Prabowo juga penting untuk menunjukkan pada rakyat bahwa keduanya bukan lagi rival politik yang terus bermusuhan. Diharapkan pendukung Prabowo akan mengikutinya, atau tidak ragu untuk menghormati Jokowi sebagai presiden yang sah dan konstitusional,” ungkap Djayadi.
Terakhir, dia meminta satu tokoh politik lagi, yakni Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono bisa memberikan pernyataan yang menyejukkan, atau dapat bertemu Jokowi.
“SBY bisa memberikan statement yang normatif mengajak semua menghormati proses hukum dan menjaga suasana kondusif. Namun sebetulnya Jokowi akan sangat baik juga bila bertemu SBY, untuk menunjukkan bahwa semua tokoh bangsa memang tidak memiliki perbedaan dalam menyikapi perlunya suasana politik dan keamanan yang kondusif,” Djayadi memungkasi.
Terkait isu unjuk rasa 25 November, rupanya Musyawarah Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI) di AQL Islamic Center, Tebet, Jakarta Selatan, memutuskan Aksi Bela Islam III akan dilaksanakan pada Jumat 2 Desember 2016 di sepanjang Jalan MH Thamrin dan Sudirman, Jakarta.
Adapun tema yang diangkat kali ini yakni Aksi Damai dan Doa Untuk Negeri. Aksi akan dipusatkan di Bundaran Hotel Indonesia (HI) dengan agenda cara Shalat Jumat, Istghotsah, dan Maulid Akbar.
“Agenda aksi yang digelar ini, Istighotsah dan doa untuk keselamatan negeri. Kita baca Al Quran, zikir, perbanyak Solatawa karena ini aksi ibadah,” kata Pembina GPNF-MUI Muhammad Rizieq Shihab di AQL Islamic Center, Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (18/11/2016).
“Tema utamanya tegakan hukum pada penista agama dan pelindungnya. Kami undang semua masyarakat, lintas budaya dan agama, lintas suku dan peradaban untuk ikut dukung Bela Islam III,” tambahnya.
Untuk itu, Rizieq mengharapkan kepada pemilik gedung sepanjang jalan MH Thamrin dan Sudirman bisa mendukung aksi super damai tersebut, demi kesatuan dan persatuan bagi Indonesia.
“Kita akan laksanakan Solat Jumat di sepanjang Sudirman, Thamrin, Semanggi, hingga Istana dengan Khotib di Bundaran HI. Aksinya gelar ibadah gelar sajadah, jadi ini aksi super damai. Siapapun harus komitmen, jaga kedamaian, kedua tetap berjalan di dalam koridor konstitusi,” pungkasnya.tau/lip/bc/ter

ConversionConversion EmoticonEmoticon